RSS

Semoga Allah Mempertemukan Kita di Syurga

“Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sepenuh hati, maka Allah akan memberikan mati syahid kepadanya, meski ia mati di tempat tidur.”

Dunia, hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu, rentang usia seorang manusia. Saya, khadijah, sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad, adalah kakak kelas saya di IPB. Pernikahan saya, melalui tahap yang biasa dilakukan oleh ikhwan dan akhwat. Saya tak pernah mengenal Muhammad sebelumnya. Dan, seperti layaknya pasangan baru, fase ta’aruf, konflik, dan kematangan pun saya alami.

Meski baru saling kenal, saya rasakan suami saya sangat sayang pada saya. Seolah, tidak seimbang dengan apa yang saya berikan. Dia banyak membantu. Apalagi ketika saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bisa dikatakan, ia sekretaris pribadi saya.

Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Kalau saya ingat kata-kata itu, itu bukan kata-kata kosong. Bahkan itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta . Seolah suami saya mengembalikan saya kepada orang tua saya. Malam itu juga suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor , karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

Read the rest of this entry »

 

Tags:

Ma’rifatullah[Al-Hafizhu]

ALLAH yang MAHA MEMELIHARA

[ ALHAFIZHU ]

ألحَفِيظُ

Oleh :Abu Nabilah

Ma’rifatullah

Ma’rifatullah atau mengenal Allah adalah hal utama yang harus disempurnakan oleh seorang muslim. Mengapa kita perlu mengenal Allah ?.

Banyak alasan yang mendasar hingga kita perlu mengenal Allah sebagai Dzat yang menciptakan kita dan alam semesta ini, tetapi yang utama dalam mengenal Allah SWT itu adalah untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya, karena kita telah memahami keberadaan Allah melalui ma’rifatullah.

Alhafizhu, ألحَفِيظُ : ALLAH yang MAHA MEMELIHARA

Salah satu sifat Allah yang harus kita kenal adalah ألحَفِيظُ [Al-Hafizhu], yaitu Allah yang Maha Memelihara.

Sejak manusia di rahim ibundanya hingga ia dipanggil kembali ke hadapan Allah, maka sesungguhnya segala kehidupannya itu telah Allah gariskan, telah Allah atur dan pelihara. Bahkan sebelum penciptaan makhluq di bumi ini, Allah telah lebih dahulu menciptakan alam semesta ini dengan penuh kesempurnaan, dan Allah SWT yang menjaga kesempurnaan itu dengan memelihara agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan Allah SWT, tidak ada kerugian dan kesalahan dari penciptaan-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب

الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السماوات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

(190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Qs.Al-Imran :190-191]

dari ayat di atas, telah jelas Allah mengklaim bahwa Allah lah yang menciptakan langit, bumi dan seluruh alam semesta. Allah SWT adalah Pencipta alam semesta dan seisinya ini, sehingga hanya Allah lah yang mengenal dan mempunyai kesempurnaan ilmu atas hasil ciptaan-Nya, dan hanya ALLAH lah yang sanggup untuk menjaga dan memelihara hasil ciptaan-Nya itu agar tetap sesuai dengan kehendak-Nya.

Bila kita memikirkan tentang penciptaan alam semesta ini, maka kita akan dapat melihat ke-Maha-an Allah dalam memelihara ciptaan-Nya ini. Allah SWT menciptakan alam semesta ini tanpa cacat, mulai dari asal mula terbentuknya, hingga cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan pada alam semesta yang senantiasa bergerak, berubah, dan memuai.

SubhanAllah, tiada satupun makhluq yang sanggup menjaga keteraturan dan keseimbangan alam semesta yang dinamis ini, bahkan untuk menjaga orbit bulan sekalipun agar tetap beredar pada garis edar (orbit)nya. Kita dapat membayangkan, berjuta-juta benda langit seperti matahari, bintang, planet, bulan, meteor, dan makhluq hidup disana yang ALLAH sebarkan diantara langit dan bumi, yang senantiasa bergerak dinamis dengan serasi tanpa bertabrakan antara satu dengan lainnya. Padahal jika kita cermati dengan seksama, garis edar (orbit) benda-benda langit tersebut banyak yang saling memotong garis edar satu benda dengan garis edar benda langit lainnya. Yang membuat semua itu tetap teratur dan serasi hanyalah dalam Pemeliharaan Allah SWT. Tidak ada satu makhluq pun yang sanggup menjaga keseimbangan alam tersebut.

Kiranya benar firman Allah :

الذي خلق سبع سماوات طباقا ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت فارجع البصر هل ترى من فطور

ثم ارجع البصر كرتين ينقلب إليك البصر خاسأ وهو حسير

(3)Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? .(4)Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. [Qs.Al-Mulk : 3-4]

Ayat di atas jelas menyatakan bahwa hanya Ar-Rahman yang Maha Memelihara ciptaan-Nya dalam keseimbangan dan tanpa cacat. Allah SWT yang menjaga segala sesuatunya serasi sesuai kehendak-Nya hingga akhir zaman nanti, bahkan dengan ciptaan alam semesta yang senantiasa bergerak dinamis pun, Allah SWT yang mengatur, memelihara dan menjaga agar masing-masing berjalan sesuai dengan fungsinya. Sedangkan manusia, hanyalah diberi sedikit ilmu oleh Allah SWT untuk memahami ciptaan-Nya tersebut.

Begitupun dengan kehidupan di bumi, semua makhluq ciptaan Allah SWT menjalani kehidupannya sesuai sunnatullah dan Allah SWT memelihara mereka semua. Maha Suci Allah yang tidak melalaikan hak satu makhluq pun dalam kehidupan di bumi. Jika kita melihat fenomena kehidupan makhluq di bumi seperti rantai makanan, maka sebagai orang beriman, kita akan paham bahwa itu adalah salah satu pemeliharaan Allah SWT terhadap keberlangsungan kehidupan makhluq di bumi. Rantai makanan tidak terjadi begitu saja, tetapi itu semua telah diatur oleh Allah SWT dengan cermat dan teliti, hingga makhluq Allah sekecil bakteri pengurai pun bisa tetap mempertahankan kehidupannya di bumi Allah.

Jadi jelaslah, bahwa segala penciptaan langit dan bumi serta makhluq yang mengisinya, semuanya adalah hak dan ciptaan Allah SWT. Tidak ada makhluq yang sanggup menandingi ilmu dan pengetahuan akan ciptaan-Nya kecuali hanya Sang Khaliq, Sang Pencipta. Oleh karena itu hanya Allah SWT sajalah yang sanggup memelihara ciptaan-Nya sesuai dengan Ilmu dan Iradah-Nya.

Allah SWT Maha Memelihara ciptaan-Nya dalam keteraturan dan keseimbangan. Allah SWT Memelihara setiap ciptaan-Nya tanpa cacat dan tidaklah sia-sia, segala sesuatunya telah Allah perhitungan menurut Ilmu-Nya dan segala sesuatunya telah Allah SWT pelihara sesuai dengan hak-Nya.

Maha Kuasa Allah, dan Maha Memelihara atas setiap ciptaan-Nya.

Al-Haqqu mirRabbikum,

Maraji’

  1. ”Al Qur’an Digital”, Freeware versi 2.1, http://www.alquran-digital.com
  2. ”Ma’rifatullah”, Dr. Irwan Prayitno, Pustaka Tarbiatuna, PondokGede-Bekasi
  3. ”Menyingkap Rahasia Alam Semesta”, Harun Yahya, Dzikra, Bandung
 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2008 in Akidah, Islam Wayz

 

Tags: ,

Iklan PKS

 
4 Comments

Posted by on November 12, 2008 in News

 

Tags:

Ponakan ke-2 ku Telah Lahir

Alhamdulillah wa syukurillah..

Akhirnya di awal bulan Mei ini, 1 Mei 2008, keponakan keduaku telah lahir di dunia ini dengan selamat dan lancar. Satu lagi bukti ke-Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah SWT.

Ponakan ini insya Allah akan diberi nama oleh orangtuanya “Muhammad Alif Nabil An-Nazhif“, .. Subhanallah, nama yang indah dan tidak terkirakan olehku sebelumnya bahwa umminya bisa memberikan nama tsb.

Ummu Nabil ini juga dulu dilahirkan di dunia ini dengan penuh ke-Agung-an Sang Pencipta. Manakala semua dokter di Surabaya saat itu (1980) sudah pesimis dan menyerah oleh kelahiran bayi premature (lebih cepat dr perkiraan, masa kehamilan hanya 5 bulan), kecil (berat badan kurang dr 1 ons), dan fungsi organ yg belum sempurna (mata belum terbentuk, jari tangan msh menyatu) yang oleh para ahli hingga prof.kedokteran pun mengeluarkan statemen, “bayi ini hanya bisa bertahan seminggu saja, paling lama sebulan”, tetapi Iradah Sang Pencipta jualah yang menentukan bahwa bayi perempuan kecil tsb harus tetap melanjutkan sejarah kehidupannya di dunia ini…hingga saat ini.

Bayi tsb adalah Ummu Nabil, yang beberapa hari lalu telah dengan selamat (atas Ijin Allah SWT) melahirkan ponakan keduaku.

Selamat dan Barakallahu lakum adikku, “Syarah Mutia Farida” dan ponakanku “M.Alif Nabil An-Nazhif”. Semoga Allah senantiasa melindungi kalian semua. Semoga ponakan yg lucu itu ditakdirkan menjadi junudul haq dan khalifaturrahman di bumi Allah ini.

 
Leave a comment

Posted by on May 7, 2008 in Curahan Hati, News

 

Tags: ,

AL-FIIL

[Ref. Fi Zhilalil Qura’an, Sayyid Quthb]

Oleh : Abu Nabilah

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah [1601] ? 2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? 3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

[1601] yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka’bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Kisah Pasukan Bergajah

Surah ini meriwayatkan tentang sebuah kisah yang sangat populer di Jazirah Arab sebelum diutusnya Rasulullah saw. Secara ringkas, surah ini membicarakan peristiwa yang menunjukkan perbuatan Gubernur Habsyah di Yaman yang bernama ’Abrahah’, pada masa negeri Yaman tunduk pada pemerintahan Habsyah setelah pemerintahan tsb dapat mengusir bangsa Persia dari Saba’. Abrahah telah membangun sebuah gereja yang megah di Yaman atas nama Raja Habasyah dengan maksud agar bangsa arab yang berkunjung ke al-Baitul Haram pindah ke gereja tsb. Akan tetapi maksud mereka tidak kesampaian karena bangsa arab sangat bangga dengan nasab mereka, yaitu mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah keturunan dari nabi Ibrahim dn Isma’il yang merupakan nabi yang membangun rumah suci tsb. Hal ini membuat Abrahah semakin kuat tekadnya untuk menghancurkan rumah suci ka’bah sehingga dipimpinnyalah pasukan yang besar disertai pasukan bergajah.

Mendengar rencana jahat ini, bangsa arab berusaha menghalang-halangi dan berusaha menghadang perjalanan pasukan bergajah tsb menuju ka’bah. Penghadang pertama dipimpin oleh pemuka dan tokoh Yaman yang bernama Dzu Nafar, akan tetapi ia kalah lalu ditawan oleh Abrahah.

Penghadang berikutnya dilakukan oleh Nufail bin Habib al-Khats’ami bersama dua kabilah Arab, tetapi penghadangan inipun gagal dan dapat dikalahkan oleh Abrahah. Bahkan Nufail ditahan dan dijadikan penunjuk jalan ke tanah Arab.

Dalam perjalanannya, tentara Abrahah juga melakukan perampasan harta benda. Dikisahkan bahwa mereka merampas harta benda suku Tihamah dari kalangan Quraisy dan merampas juga dua ratus ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang saat itu menjadi pemuka suku Quraisy. Kemudian Abrahah mengirim utusan ke Mekkah untuk menyampaikan pada penduduk mekkah bahwa kedatangan pasukan raja tsb bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan hanya untuk menghancurkan Baitul Haram, Ka’bah.

Kemudian Abdul Muthalib balik berkata pd utusan tsb, ”Demi Allah, kami tidak ingin berperang dengannya, dan kami tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Ini adalah rumah Allah yang Mulia dan ini adalah rumah buatan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim a.s. Kalau Dia menghalanginya, itu adalah karena memang rumah suci ini milik-Nya. Jika Dia membiarkannya, demi Allah kami tidak akan melakukan penolakan.”

Kemudian Abdul Muthalib memerintahkan pd penduduk mekkah supaya keluar dr mekkah dan berlindung di atas gunung-gunung. Singkat cerita, Abrahah menghadapkan pasukan dan gajahnya untuk bersiap menghancurkan Ka’bah ketika telah tiba di sekitar Mekkah.

* * *

Kembali pada Surah Al-Fill ayat pertama :

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah [1601] ?

[1601] yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka’bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Ayat ini merupakan pertanyaan untuk menunjukkan ketakjuban terhadap peristiwa tsb dan mengingatkan akan Kekuasaan Allah SWT.

Dalam ayat ini, Allah SWT ingin kita mengambil pelajaran dari kejadian pasukan/tentara bergajah yang dikomandani oleh Abrahah dg maksud untuk menghancurkan ka’bah. Tetapi setibanya di sekitar mekkah, para gajah hanya menderum dan tidak mau memasuki kota mekkah. Hal ini terjadi tetapi ada penjelasannya, Rasulullah saw bersabda pada waktu peristiwa Hudaibiyah ketika unta beliau al-Qashwa menderum di luar kota mekkah. Maka orang-orang berkata, ‘Al-Qashwa mogok’, lalu Rasulullah bersabda, “‘Al-Qashwa’ tidak mogok dan dia tidak diciptakan untuk mogok, akan tetapi dia ditahan oleh yang menahan gajah dahulu.” (HR.Bukhari).

Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda pd waktu pembebasan kota Mekkah (Fat-hu Makkah),

“Sesungguhnya, ALLAH telah menahan gajah dr memasuki kota mekah, dan Dia menjadikan Rasul-Nya dan kaum mukminin berkuasa atasnya. Sesungguhnya, kehormatan kota ini telah kembali sebagaimana kehormatannya kemarin. Karena itu ingatlah, hendaklah orang yg hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Kemudian Allah hendak membinasakan pasukan bergajah tsb beserta komandannya.

Setelah ayat pertama tsb, Allah menyempurnakan kisah ini dalam bentuk istifham taqriri’, pertanyaan retoris pada ayat berikutnya, suatu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena sudah merupakan ketetapan,

2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

Yakni kesia-siaan usaha mereka untuk menghancurkan ka’bah, karena Allah telah menetapkan bahwa mereka tidak akan berhasil mencapai sasaran. Padahal saat itu, pasukab Abrahah dan gajah-gajahnya tidak ada yg sanggup menandinginya, apalagi penduduk kota mekkah sudah pasrah dan menyingkir keluar kota berlindung ke gunung-gunung. Jadi tidak ada sesuatupun yg seharusnya menghalangi tentara ini untuk menghancurkan ka’bah. Hanya Allah SWT sajalah yang sanggup merubah kesempatan kemenangan yg sudah di depan mata tersebut menjadi kekalahan dan kesia-siaan.

Adapun bagaimana cara Allah menjadikan usaha tentara tsb sia-sia, dijelaskan dalam kelanjutan ayat berikutnya dalam bentuk keterangan yang indah,

3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Dalam ayat ini, Allah mengisahkan bahwa Allah mengirimkan kpd pasukan Abrahah beserta gajahnya serombongan burung yang melempari pasukan dan gajah tsb dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat dan dari batu-batu gunung, sehingga mereka seperti daun-daun kering yang terobek-robek, sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’anul karim. Abrahah pun terkena lemparan di tubuhnya, dan dibawa mundur oleh pasukannya dalam keadaan jari-jarinya yang terputus-putus satu demi satu , hingga sampai di Shan’a. Maka ia tidak mati sehingga dadanya terbelah dan kelihatan hatinya, sebagaimana diceritakan dalam beberapa riwayat.

Ababiil artinya berbondong-bondong. Sijjil adalah kata Persia yg tdd dua kata yang berarti batu dan tanah atau batu yang dilumuri dengan tanah.

Sedangkan ‘ash berarti daun-daun pepohonan yang kering. Disifatinya ia dengan ma’kul, dimakan, yakni rusak karena dimakan dan dirobek-robek oleh ulat atau serangga, atau ketika dimakan oleh binatang buas lantas dikunyah-kunyah dan dilumatkannya.

Terdapat berbagai macam riwayat tentang kisah ini, baik dalam hal penetapan keberadaan burung-burung, bentuk dan ukuran fisiknya, besar-kecil dan jenis batuannya, serta petaka yg menimpa Abrahah. Banyak pendapat yang berbeda-beda, bahkan ada yang mencoba untuk merasionalisasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa kisah ini merupakan cerita tentang berjangkitnya penyakit cacar dan campak yang dialami oleh Abrahah dan pasukannya yang saat zaman itu belum ditemukan obatnya.

Terlepas perbedaan kisah di dalam penafsiran surah ini, terdapat beberapa pelajaran dan peringatan yang bisa diambil, antara lain :

Pertama, Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Walaupun dalam ukuran manusia, Tentara Abrahah dan gajahnya sudah tidak ada yg sanggup menghalanginya, tetapi semua kembali kepada ketetapan Allah sehingga Allah sanggup untuk memutar balik perhitungan kemenangan yang akan didapatkan oleh tentara abrahah menjadi hitungan kekalahan, kesia-siaan, bahkan kehancuran bagi mereka.

Dan Allah tidak menyerahkan pemeliharaan rumah sucinya, Baitul Haram kepada kaum musyrikin dan masyarakat Quraisy.

Kedua, Allah tidak menghendaki kaum Ahli Kitab, Abrahah dan tentaranya untuk menghancurkan Baitul Haram atau menguasai tanah suci. Sehingga Allah mengirimkan tentara-Nya, burung abaabil untuk menghancurkan tentara Abrahah dan pasukan gajahnya, hingga mereka gagal untuk menghancurkan ka’bah.

Ketiga, bangsa Arab tidak memiliki peranan apa-apa di muka bumi dan tidak ada eksistensinya sebelum kedatangan Islam. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diambil pemuka Quraisy dan penduduknya untuk menyingkir keluar kota mekkah dan berlindung di gunung saat kedatangan tentara Abrahah.

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2008 in Akidah, Islam Wayz

 

Tags: , ,