RSS

Category Archives: Islam Wayz

Articles, Informations, News Update, and Opinions around Islimic Lifes

The Seven Islamic Daily Habits Dalam Surat Al-Fatihah

bag 1
oleh Abu Ahmad

Mukaddimah

Di masyarakat banyak sekali amalan-amalan mulia yang sudah sejak lama mentradisi. Banyak orang yang mengamalkan doa dan dzikir pagi dan petang. Mereka membacanya setelah shalat subuh dan shalat Maghrib. Di masyarakat Betawi; ada yang biasa baca yasinan pada malam jum’at, dan ada yang membacanya pada jum’at pagi ba’da shalat subuh. Dan kita sering mendengar pembawa acara mengajak kita bersama-sama untuk membaca surat al-fatihah untuk kita hadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia atau orang yang sedang sakit dan seterusnya.

Namun amalan-amalan mulia tersebut terkesan mulai kehilangan makna aslinya. Dzikir pagi dan petang yang menyuratkan dan menyiratkan pesan evaluasi diri seorang muslim akan pekerjaan hariannya hanya dijadikan wirid setelah wirid setelah shalat. Al-fatihah surat yang teragung itu ternyata hanya dipakai untuk mengirim hadiah kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia. Begitu juga dengan surah Yasin yang kandungannya begitu hebat, kin lebih terkesan dijadikan surat untuk seremonial atau untuk orang yang sedang sekarat saja.

Apakah ajaran Islam memang seperti itu? Apakah praktek keberagamaan hanya untuk mengumpulkan pahala akhirat?
Jawabannya adalah bahwa ajaran Islam tidak sekadar bekal buat akhirat, tetapi di dalamnya terdapat kunci-kunci pengantar sukses, ilmu dan peradaban, akhlaq dan etika serta estetika, membawa umatnya tidak sekadar bahagia diakhiratnya kelak, tapi juga memberikan kebahagiaan di dunia, kesuksesan dalam bekerja dan berkarya serta mampu menjadi pemimpin dunia.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2009 in Akhlaq, Islam Wayz

 

Tags: ,

Bagaimana Seorang Muslim Mengelola Berita

Bagaimana Seorang Muslim Mengelola Berita

Oleh : Abu Nabilah

Era kemajuan teknologi saat ini sangatlah pesat. Arus informasi begitu lancar, bahkan kejadian yang terjadi di suatu Negara akan dapat dengan cepat sampai ke Negara lain yang letaknya jauh melewati benua dan lautan.
Berkembangnya arus informasi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, bahkan menentukan kelangsungan hidup manusia di muka bumi. Seorang pakar informasi pernah mengatakan, “ barang siapa menguasai informasi, maka dia akan menguasai dunia”. Kiranya ungkapan ini tidaklah berlebihan, manakala sebuah informasi yang didapatkan dikelola dengan baik, maka informasi tersebut dapat menjadi langkah awal dalam suatu proses pencapaian tujuan. Pengelolaan dan pemanfaatan informasi atau berita secara tepat dapat menentukan langkah keberhasilan atau kemenangan.

Kita dapat melihat contoh nyata dari sirah perang badar. Manakala Rasulullah Saw bersama para sahabat beliau berhasil mendapatkan berita dari para pedagang yang melintas di daerah antara madinah dan badar, mereka segera dapat mengetahui keberadaan para pasukan kafir quraisy, sehingga Rasulullah Saw beserta para sahabat dapat menentukan strategi yang tepat untuk menghadapi mereka.

Informasi dan berita yang tersampaikan pun bisa membawa kemudharatan dan keburukan, manakala informasi ini tidak dikelola dengan cara yang baik dan tidak dengan tujuan yang baik. Sebagai seorang muslim, Allah SWT dan Rasul-Nya telah mencontohkan bagaimana cara mengelola suatu berita atau informasi, sehingga dapat bermanfaat dan tidak menimpakan suatu keburukan dalam kehidupan ini.

Muslim dapat berkaca pada kejadian masa lampau, manakala fitnah telah menimpa istri Rasulullah Saw, Siti Aisyah ra, dengan tuduhan telah selingkuh. Saat itu dalam perjalanan pulang dari peperangan Bani Musthaliq, Siti Aisyah ra tertinggal di belakang dari rombongan Rasulullah Saw dan akhirnya bertemu dengan sahabat Rasulullah yang bernama Shafwan bin Mu’athal ra. Sahabat ini akhirnya menemani perjalanan pulang Siti Aisyah dengan maksud untuk melindungi beliau. Sesampainya mereka di tempat, kaum munafik termasuk Abdullah bin Ubay bin Salul malah menyebarkan berita bohong bahwa istri nabi, Siti Aisyah ra telah selingkuh dengan Shafwan ra, sehingga berita ini dengan cepat menyebar ke kalangan muslim dan menyebabkan Rasulullah saw gelisah dan beberapa saat tidak menegur istrinya, hingga datang pembelaan langsung dari Allah SWT. Kejadian ini dikenal dengan peristiwa Hadistul Ifki, dan dapat dilihat pada surat An-Nuur (24) : 11-21.

Begitu besar keburukan dan kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh suatu berita yang tidak akurat, begitu banyak kemudharatan dan kedzaliman yang akan menimpa suatu kaum dikarenakan berita yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Oleh sebab itu, agama Islam ini telah mengajarkan kepada kita untuk dapat mengelola berita atau informasi secara bijaksana sesuai dengan Allah SWT syariatkan dan Rasulullah saw contohkan, yaitu :

1. Berbaik Sangka atau Husnudzan
Apabila kita mendapatkan berita ataupun informasi yang buruk tentang saudara muslim kita, maka yang pertama kali harus kita kedepankan adalah membangun prasangka baik kita kepadanya (husnudzan). Boleh jadi bahwa berita buruk yang sampai ke telinga kita adalah berita fitnah dan jauh dari kebenaran, dan boleh jadi berita tersebut adalah benar adanya tetapi juga jauh dari keakuratan. Sehingga alangkah bijaksananya jika kita tidak mempercayai begitu saja berita yang kita dengar tentang saudara muslim kita lainnya apalagi jika berita tersebut disampaikan oleh seorang munafik dan kafir.
Allah SWT berfirman di awal surat Al-Hujurat ayat 12 :


يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa..”
(Qs.49 : 12)

Abu Hurairah ra pernah menyampaikan sebuah hadist Rasulullah Saw yang berbunyi :

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِAl-Bukhari No. 6066 dan Muslim No. 6482)

Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on November 23, 2008 in Akhlaq, Islam Wayz

 

Tags: ,

Tanggung Jawab Pemimpin

Risalah Nahwan An Nur 1
Tanggung Jawab Pemimpin

Dalam kehidupan masyarakat, apalagi pada masyarakat Islam yang memiliki misi sangat mulia dalam hidupnya, pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam perjalanan jauh (safar) tiga orang, satu di antara mereka harus diangkat sebagai pemimpin perjalanan, sementara shalat yang diikuti oleh orang banyak baru disebut shalat berjamaah manakala ada imam (pemimpin) dan makmum. Oleh karena itu, ketika Rasulullah Saw wafat, yang pertama dilakukan oleh para sahabat adalah memilih pemimpin yang menggantikan beliau, sehingga jenazah Rasul Saw tidak begitu mendapat perhatian. Ini menunjukkan betapa kedudukan pemimpin sedemikian penting. Karena itu baik dan tidaknya suatu organisasi, jamaah dan bangsa salah satunya sangat tergantung kepada pemimpin. Namun, di dalam Islam, kesempatan menjadi pemimpin bukanlah untuk meraih popularitas kekayaan yang banyak, apalagi untuk mengacaukan dan memperburuk kehidupan masyarakat, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam, karenanya seorang pemimpin harus mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah Taala. Rasulullah saw bersabda :

كُلُّكٌم رَاعٍ وَ كُلُّكُم مَسؤُوْلٌ عَن رَعِيَّتِهِ

“Tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”

Karena kedudukan pemimpin yang begitu strategis, maka Imam Syahid Hasan AI-Banna telah berkirim surat kepada sejumlah tokoh, baik tokoh-tokoh pemimpin struktural seperti kepala negara dan pemerintahan seperti Raja Farouq I yang berkuasa atas Mesir dan Sudan, Mustafa An Nahhas sebagai Perdana Menterinya serta kepada para penguasa di negeri-negeri muslim lainnya, maupun tokoh-tokoh pemimpin non struktural di tengah-tengah masyarakat yang pendapat-pendapat mereka didengar serta perilaku mereka menjadi panutan umat.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 20, 2008 in Akhlaq, Islam Wayz, Tarbiyah

 

Tags: ,

Semoga Allah Mempertemukan Kita di Syurga

“Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sepenuh hati, maka Allah akan memberikan mati syahid kepadanya, meski ia mati di tempat tidur.”

Dunia, hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu, rentang usia seorang manusia. Saya, khadijah, sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad, adalah kakak kelas saya di IPB. Pernikahan saya, melalui tahap yang biasa dilakukan oleh ikhwan dan akhwat. Saya tak pernah mengenal Muhammad sebelumnya. Dan, seperti layaknya pasangan baru, fase ta’aruf, konflik, dan kematangan pun saya alami.

Meski baru saling kenal, saya rasakan suami saya sangat sayang pada saya. Seolah, tidak seimbang dengan apa yang saya berikan. Dia banyak membantu. Apalagi ketika saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bisa dikatakan, ia sekretaris pribadi saya.

Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Kalau saya ingat kata-kata itu, itu bukan kata-kata kosong. Bahkan itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta . Seolah suami saya mengembalikan saya kepada orang tua saya. Malam itu juga suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor , karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

Read the rest of this entry »

 

Tags:

Ma’rifatullah[Al-Hafizhu]

ALLAH yang MAHA MEMELIHARA

[ ALHAFIZHU ]

ألحَفِيظُ

Oleh :Abu Nabilah

Ma’rifatullah

Ma’rifatullah atau mengenal Allah adalah hal utama yang harus disempurnakan oleh seorang muslim. Mengapa kita perlu mengenal Allah ?.

Banyak alasan yang mendasar hingga kita perlu mengenal Allah sebagai Dzat yang menciptakan kita dan alam semesta ini, tetapi yang utama dalam mengenal Allah SWT itu adalah untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya, karena kita telah memahami keberadaan Allah melalui ma’rifatullah.

Alhafizhu, ألحَفِيظُ : ALLAH yang MAHA MEMELIHARA

Salah satu sifat Allah yang harus kita kenal adalah ألحَفِيظُ [Al-Hafizhu], yaitu Allah yang Maha Memelihara.

Sejak manusia di rahim ibundanya hingga ia dipanggil kembali ke hadapan Allah, maka sesungguhnya segala kehidupannya itu telah Allah gariskan, telah Allah atur dan pelihara. Bahkan sebelum penciptaan makhluq di bumi ini, Allah telah lebih dahulu menciptakan alam semesta ini dengan penuh kesempurnaan, dan Allah SWT yang menjaga kesempurnaan itu dengan memelihara agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan Allah SWT, tidak ada kerugian dan kesalahan dari penciptaan-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب

الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السماوات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

(190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Qs.Al-Imran :190-191]

dari ayat di atas, telah jelas Allah mengklaim bahwa Allah lah yang menciptakan langit, bumi dan seluruh alam semesta. Allah SWT adalah Pencipta alam semesta dan seisinya ini, sehingga hanya Allah lah yang mengenal dan mempunyai kesempurnaan ilmu atas hasil ciptaan-Nya, dan hanya ALLAH lah yang sanggup untuk menjaga dan memelihara hasil ciptaan-Nya itu agar tetap sesuai dengan kehendak-Nya.

Bila kita memikirkan tentang penciptaan alam semesta ini, maka kita akan dapat melihat ke-Maha-an Allah dalam memelihara ciptaan-Nya ini. Allah SWT menciptakan alam semesta ini tanpa cacat, mulai dari asal mula terbentuknya, hingga cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan pada alam semesta yang senantiasa bergerak, berubah, dan memuai.

SubhanAllah, tiada satupun makhluq yang sanggup menjaga keteraturan dan keseimbangan alam semesta yang dinamis ini, bahkan untuk menjaga orbit bulan sekalipun agar tetap beredar pada garis edar (orbit)nya. Kita dapat membayangkan, berjuta-juta benda langit seperti matahari, bintang, planet, bulan, meteor, dan makhluq hidup disana yang ALLAH sebarkan diantara langit dan bumi, yang senantiasa bergerak dinamis dengan serasi tanpa bertabrakan antara satu dengan lainnya. Padahal jika kita cermati dengan seksama, garis edar (orbit) benda-benda langit tersebut banyak yang saling memotong garis edar satu benda dengan garis edar benda langit lainnya. Yang membuat semua itu tetap teratur dan serasi hanyalah dalam Pemeliharaan Allah SWT. Tidak ada satu makhluq pun yang sanggup menjaga keseimbangan alam tersebut.

Kiranya benar firman Allah :

الذي خلق سبع سماوات طباقا ما ترى في خلق الرحمن من تفاوت فارجع البصر هل ترى من فطور

ثم ارجع البصر كرتين ينقلب إليك البصر خاسأ وهو حسير

(3)Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? .(4)Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. [Qs.Al-Mulk : 3-4]

Ayat di atas jelas menyatakan bahwa hanya Ar-Rahman yang Maha Memelihara ciptaan-Nya dalam keseimbangan dan tanpa cacat. Allah SWT yang menjaga segala sesuatunya serasi sesuai kehendak-Nya hingga akhir zaman nanti, bahkan dengan ciptaan alam semesta yang senantiasa bergerak dinamis pun, Allah SWT yang mengatur, memelihara dan menjaga agar masing-masing berjalan sesuai dengan fungsinya. Sedangkan manusia, hanyalah diberi sedikit ilmu oleh Allah SWT untuk memahami ciptaan-Nya tersebut.

Begitupun dengan kehidupan di bumi, semua makhluq ciptaan Allah SWT menjalani kehidupannya sesuai sunnatullah dan Allah SWT memelihara mereka semua. Maha Suci Allah yang tidak melalaikan hak satu makhluq pun dalam kehidupan di bumi. Jika kita melihat fenomena kehidupan makhluq di bumi seperti rantai makanan, maka sebagai orang beriman, kita akan paham bahwa itu adalah salah satu pemeliharaan Allah SWT terhadap keberlangsungan kehidupan makhluq di bumi. Rantai makanan tidak terjadi begitu saja, tetapi itu semua telah diatur oleh Allah SWT dengan cermat dan teliti, hingga makhluq Allah sekecil bakteri pengurai pun bisa tetap mempertahankan kehidupannya di bumi Allah.

Jadi jelaslah, bahwa segala penciptaan langit dan bumi serta makhluq yang mengisinya, semuanya adalah hak dan ciptaan Allah SWT. Tidak ada makhluq yang sanggup menandingi ilmu dan pengetahuan akan ciptaan-Nya kecuali hanya Sang Khaliq, Sang Pencipta. Oleh karena itu hanya Allah SWT sajalah yang sanggup memelihara ciptaan-Nya sesuai dengan Ilmu dan Iradah-Nya.

Allah SWT Maha Memelihara ciptaan-Nya dalam keteraturan dan keseimbangan. Allah SWT Memelihara setiap ciptaan-Nya tanpa cacat dan tidaklah sia-sia, segala sesuatunya telah Allah perhitungan menurut Ilmu-Nya dan segala sesuatunya telah Allah SWT pelihara sesuai dengan hak-Nya.

Maha Kuasa Allah, dan Maha Memelihara atas setiap ciptaan-Nya.

Al-Haqqu mirRabbikum,

Maraji’

  1. ”Al Qur’an Digital”, Freeware versi 2.1, http://www.alquran-digital.com
  2. ”Ma’rifatullah”, Dr. Irwan Prayitno, Pustaka Tarbiatuna, PondokGede-Bekasi
  3. ”Menyingkap Rahasia Alam Semesta”, Harun Yahya, Dzikra, Bandung
 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2008 in Akidah, Islam Wayz

 

Tags: ,

AL-FIIL

[Ref. Fi Zhilalil Qura’an, Sayyid Quthb]

Oleh : Abu Nabilah

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah [1601] ? 2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? 3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

[1601] yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka’bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Kisah Pasukan Bergajah

Surah ini meriwayatkan tentang sebuah kisah yang sangat populer di Jazirah Arab sebelum diutusnya Rasulullah saw. Secara ringkas, surah ini membicarakan peristiwa yang menunjukkan perbuatan Gubernur Habsyah di Yaman yang bernama ’Abrahah’, pada masa negeri Yaman tunduk pada pemerintahan Habsyah setelah pemerintahan tsb dapat mengusir bangsa Persia dari Saba’. Abrahah telah membangun sebuah gereja yang megah di Yaman atas nama Raja Habasyah dengan maksud agar bangsa arab yang berkunjung ke al-Baitul Haram pindah ke gereja tsb. Akan tetapi maksud mereka tidak kesampaian karena bangsa arab sangat bangga dengan nasab mereka, yaitu mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah keturunan dari nabi Ibrahim dn Isma’il yang merupakan nabi yang membangun rumah suci tsb. Hal ini membuat Abrahah semakin kuat tekadnya untuk menghancurkan rumah suci ka’bah sehingga dipimpinnyalah pasukan yang besar disertai pasukan bergajah.

Mendengar rencana jahat ini, bangsa arab berusaha menghalang-halangi dan berusaha menghadang perjalanan pasukan bergajah tsb menuju ka’bah. Penghadang pertama dipimpin oleh pemuka dan tokoh Yaman yang bernama Dzu Nafar, akan tetapi ia kalah lalu ditawan oleh Abrahah.

Penghadang berikutnya dilakukan oleh Nufail bin Habib al-Khats’ami bersama dua kabilah Arab, tetapi penghadangan inipun gagal dan dapat dikalahkan oleh Abrahah. Bahkan Nufail ditahan dan dijadikan penunjuk jalan ke tanah Arab.

Dalam perjalanannya, tentara Abrahah juga melakukan perampasan harta benda. Dikisahkan bahwa mereka merampas harta benda suku Tihamah dari kalangan Quraisy dan merampas juga dua ratus ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang saat itu menjadi pemuka suku Quraisy. Kemudian Abrahah mengirim utusan ke Mekkah untuk menyampaikan pada penduduk mekkah bahwa kedatangan pasukan raja tsb bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan hanya untuk menghancurkan Baitul Haram, Ka’bah.

Kemudian Abdul Muthalib balik berkata pd utusan tsb, ”Demi Allah, kami tidak ingin berperang dengannya, dan kami tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Ini adalah rumah Allah yang Mulia dan ini adalah rumah buatan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim a.s. Kalau Dia menghalanginya, itu adalah karena memang rumah suci ini milik-Nya. Jika Dia membiarkannya, demi Allah kami tidak akan melakukan penolakan.”

Kemudian Abdul Muthalib memerintahkan pd penduduk mekkah supaya keluar dr mekkah dan berlindung di atas gunung-gunung. Singkat cerita, Abrahah menghadapkan pasukan dan gajahnya untuk bersiap menghancurkan Ka’bah ketika telah tiba di sekitar Mekkah.

* * *

Kembali pada Surah Al-Fill ayat pertama :

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah [1601] ?

[1601] yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka’bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Ayat ini merupakan pertanyaan untuk menunjukkan ketakjuban terhadap peristiwa tsb dan mengingatkan akan Kekuasaan Allah SWT.

Dalam ayat ini, Allah SWT ingin kita mengambil pelajaran dari kejadian pasukan/tentara bergajah yang dikomandani oleh Abrahah dg maksud untuk menghancurkan ka’bah. Tetapi setibanya di sekitar mekkah, para gajah hanya menderum dan tidak mau memasuki kota mekkah. Hal ini terjadi tetapi ada penjelasannya, Rasulullah saw bersabda pada waktu peristiwa Hudaibiyah ketika unta beliau al-Qashwa menderum di luar kota mekkah. Maka orang-orang berkata, ‘Al-Qashwa mogok’, lalu Rasulullah bersabda, “‘Al-Qashwa’ tidak mogok dan dia tidak diciptakan untuk mogok, akan tetapi dia ditahan oleh yang menahan gajah dahulu.” (HR.Bukhari).

Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda pd waktu pembebasan kota Mekkah (Fat-hu Makkah),

“Sesungguhnya, ALLAH telah menahan gajah dr memasuki kota mekah, dan Dia menjadikan Rasul-Nya dan kaum mukminin berkuasa atasnya. Sesungguhnya, kehormatan kota ini telah kembali sebagaimana kehormatannya kemarin. Karena itu ingatlah, hendaklah orang yg hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Kemudian Allah hendak membinasakan pasukan bergajah tsb beserta komandannya.

Setelah ayat pertama tsb, Allah menyempurnakan kisah ini dalam bentuk istifham taqriri’, pertanyaan retoris pada ayat berikutnya, suatu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena sudah merupakan ketetapan,

2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

Yakni kesia-siaan usaha mereka untuk menghancurkan ka’bah, karena Allah telah menetapkan bahwa mereka tidak akan berhasil mencapai sasaran. Padahal saat itu, pasukab Abrahah dan gajah-gajahnya tidak ada yg sanggup menandinginya, apalagi penduduk kota mekkah sudah pasrah dan menyingkir keluar kota berlindung ke gunung-gunung. Jadi tidak ada sesuatupun yg seharusnya menghalangi tentara ini untuk menghancurkan ka’bah. Hanya Allah SWT sajalah yang sanggup merubah kesempatan kemenangan yg sudah di depan mata tersebut menjadi kekalahan dan kesia-siaan.

Adapun bagaimana cara Allah menjadikan usaha tentara tsb sia-sia, dijelaskan dalam kelanjutan ayat berikutnya dalam bentuk keterangan yang indah,

3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Dalam ayat ini, Allah mengisahkan bahwa Allah mengirimkan kpd pasukan Abrahah beserta gajahnya serombongan burung yang melempari pasukan dan gajah tsb dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat dan dari batu-batu gunung, sehingga mereka seperti daun-daun kering yang terobek-robek, sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’anul karim. Abrahah pun terkena lemparan di tubuhnya, dan dibawa mundur oleh pasukannya dalam keadaan jari-jarinya yang terputus-putus satu demi satu , hingga sampai di Shan’a. Maka ia tidak mati sehingga dadanya terbelah dan kelihatan hatinya, sebagaimana diceritakan dalam beberapa riwayat.

Ababiil artinya berbondong-bondong. Sijjil adalah kata Persia yg tdd dua kata yang berarti batu dan tanah atau batu yang dilumuri dengan tanah.

Sedangkan ‘ash berarti daun-daun pepohonan yang kering. Disifatinya ia dengan ma’kul, dimakan, yakni rusak karena dimakan dan dirobek-robek oleh ulat atau serangga, atau ketika dimakan oleh binatang buas lantas dikunyah-kunyah dan dilumatkannya.

Terdapat berbagai macam riwayat tentang kisah ini, baik dalam hal penetapan keberadaan burung-burung, bentuk dan ukuran fisiknya, besar-kecil dan jenis batuannya, serta petaka yg menimpa Abrahah. Banyak pendapat yang berbeda-beda, bahkan ada yang mencoba untuk merasionalisasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa kisah ini merupakan cerita tentang berjangkitnya penyakit cacar dan campak yang dialami oleh Abrahah dan pasukannya yang saat zaman itu belum ditemukan obatnya.

Terlepas perbedaan kisah di dalam penafsiran surah ini, terdapat beberapa pelajaran dan peringatan yang bisa diambil, antara lain :

Pertama, Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Walaupun dalam ukuran manusia, Tentara Abrahah dan gajahnya sudah tidak ada yg sanggup menghalanginya, tetapi semua kembali kepada ketetapan Allah sehingga Allah sanggup untuk memutar balik perhitungan kemenangan yang akan didapatkan oleh tentara abrahah menjadi hitungan kekalahan, kesia-siaan, bahkan kehancuran bagi mereka.

Dan Allah tidak menyerahkan pemeliharaan rumah sucinya, Baitul Haram kepada kaum musyrikin dan masyarakat Quraisy.

Kedua, Allah tidak menghendaki kaum Ahli Kitab, Abrahah dan tentaranya untuk menghancurkan Baitul Haram atau menguasai tanah suci. Sehingga Allah mengirimkan tentara-Nya, burung abaabil untuk menghancurkan tentara Abrahah dan pasukan gajahnya, hingga mereka gagal untuk menghancurkan ka’bah.

Ketiga, bangsa Arab tidak memiliki peranan apa-apa di muka bumi dan tidak ada eksistensinya sebelum kedatangan Islam. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diambil pemuka Quraisy dan penduduknya untuk menyingkir keluar kota mekkah dan berlindung di gunung saat kedatangan tentara Abrahah.

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2008 in Akidah, Islam Wayz

 

Tags: , ,