RSS

AL-FIIL

06 May

[Ref. Fi Zhilalil Qura’an, Sayyid Quthb]

Oleh : Abu Nabilah

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah [1601] ? 2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? 3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

[1601] yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka’bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Kisah Pasukan Bergajah

Surah ini meriwayatkan tentang sebuah kisah yang sangat populer di Jazirah Arab sebelum diutusnya Rasulullah saw. Secara ringkas, surah ini membicarakan peristiwa yang menunjukkan perbuatan Gubernur Habsyah di Yaman yang bernama ’Abrahah’, pada masa negeri Yaman tunduk pada pemerintahan Habsyah setelah pemerintahan tsb dapat mengusir bangsa Persia dari Saba’. Abrahah telah membangun sebuah gereja yang megah di Yaman atas nama Raja Habasyah dengan maksud agar bangsa arab yang berkunjung ke al-Baitul Haram pindah ke gereja tsb. Akan tetapi maksud mereka tidak kesampaian karena bangsa arab sangat bangga dengan nasab mereka, yaitu mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah keturunan dari nabi Ibrahim dn Isma’il yang merupakan nabi yang membangun rumah suci tsb. Hal ini membuat Abrahah semakin kuat tekadnya untuk menghancurkan rumah suci ka’bah sehingga dipimpinnyalah pasukan yang besar disertai pasukan bergajah.

Mendengar rencana jahat ini, bangsa arab berusaha menghalang-halangi dan berusaha menghadang perjalanan pasukan bergajah tsb menuju ka’bah. Penghadang pertama dipimpin oleh pemuka dan tokoh Yaman yang bernama Dzu Nafar, akan tetapi ia kalah lalu ditawan oleh Abrahah.

Penghadang berikutnya dilakukan oleh Nufail bin Habib al-Khats’ami bersama dua kabilah Arab, tetapi penghadangan inipun gagal dan dapat dikalahkan oleh Abrahah. Bahkan Nufail ditahan dan dijadikan penunjuk jalan ke tanah Arab.

Dalam perjalanannya, tentara Abrahah juga melakukan perampasan harta benda. Dikisahkan bahwa mereka merampas harta benda suku Tihamah dari kalangan Quraisy dan merampas juga dua ratus ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang saat itu menjadi pemuka suku Quraisy. Kemudian Abrahah mengirim utusan ke Mekkah untuk menyampaikan pada penduduk mekkah bahwa kedatangan pasukan raja tsb bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan hanya untuk menghancurkan Baitul Haram, Ka’bah.

Kemudian Abdul Muthalib balik berkata pd utusan tsb, ”Demi Allah, kami tidak ingin berperang dengannya, dan kami tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Ini adalah rumah Allah yang Mulia dan ini adalah rumah buatan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim a.s. Kalau Dia menghalanginya, itu adalah karena memang rumah suci ini milik-Nya. Jika Dia membiarkannya, demi Allah kami tidak akan melakukan penolakan.”

Kemudian Abdul Muthalib memerintahkan pd penduduk mekkah supaya keluar dr mekkah dan berlindung di atas gunung-gunung. Singkat cerita, Abrahah menghadapkan pasukan dan gajahnya untuk bersiap menghancurkan Ka’bah ketika telah tiba di sekitar Mekkah.

* * *

Kembali pada Surah Al-Fill ayat pertama :

1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah [1601] ?

[1601] yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka’bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Ayat ini merupakan pertanyaan untuk menunjukkan ketakjuban terhadap peristiwa tsb dan mengingatkan akan Kekuasaan Allah SWT.

Dalam ayat ini, Allah SWT ingin kita mengambil pelajaran dari kejadian pasukan/tentara bergajah yang dikomandani oleh Abrahah dg maksud untuk menghancurkan ka’bah. Tetapi setibanya di sekitar mekkah, para gajah hanya menderum dan tidak mau memasuki kota mekkah. Hal ini terjadi tetapi ada penjelasannya, Rasulullah saw bersabda pada waktu peristiwa Hudaibiyah ketika unta beliau al-Qashwa menderum di luar kota mekkah. Maka orang-orang berkata, ‘Al-Qashwa mogok’, lalu Rasulullah bersabda, “‘Al-Qashwa’ tidak mogok dan dia tidak diciptakan untuk mogok, akan tetapi dia ditahan oleh yang menahan gajah dahulu.” (HR.Bukhari).

Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda pd waktu pembebasan kota Mekkah (Fat-hu Makkah),

“Sesungguhnya, ALLAH telah menahan gajah dr memasuki kota mekah, dan Dia menjadikan Rasul-Nya dan kaum mukminin berkuasa atasnya. Sesungguhnya, kehormatan kota ini telah kembali sebagaimana kehormatannya kemarin. Karena itu ingatlah, hendaklah orang yg hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Kemudian Allah hendak membinasakan pasukan bergajah tsb beserta komandannya.

Setelah ayat pertama tsb, Allah menyempurnakan kisah ini dalam bentuk istifham taqriri’, pertanyaan retoris pada ayat berikutnya, suatu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena sudah merupakan ketetapan,

2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

Yakni kesia-siaan usaha mereka untuk menghancurkan ka’bah, karena Allah telah menetapkan bahwa mereka tidak akan berhasil mencapai sasaran. Padahal saat itu, pasukab Abrahah dan gajah-gajahnya tidak ada yg sanggup menandinginya, apalagi penduduk kota mekkah sudah pasrah dan menyingkir keluar kota berlindung ke gunung-gunung. Jadi tidak ada sesuatupun yg seharusnya menghalangi tentara ini untuk menghancurkan ka’bah. Hanya Allah SWT sajalah yang sanggup merubah kesempatan kemenangan yg sudah di depan mata tersebut menjadi kekalahan dan kesia-siaan.

Adapun bagaimana cara Allah menjadikan usaha tentara tsb sia-sia, dijelaskan dalam kelanjutan ayat berikutnya dalam bentuk keterangan yang indah,

3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Dalam ayat ini, Allah mengisahkan bahwa Allah mengirimkan kpd pasukan Abrahah beserta gajahnya serombongan burung yang melempari pasukan dan gajah tsb dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat dan dari batu-batu gunung, sehingga mereka seperti daun-daun kering yang terobek-robek, sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’anul karim. Abrahah pun terkena lemparan di tubuhnya, dan dibawa mundur oleh pasukannya dalam keadaan jari-jarinya yang terputus-putus satu demi satu , hingga sampai di Shan’a. Maka ia tidak mati sehingga dadanya terbelah dan kelihatan hatinya, sebagaimana diceritakan dalam beberapa riwayat.

Ababiil artinya berbondong-bondong. Sijjil adalah kata Persia yg tdd dua kata yang berarti batu dan tanah atau batu yang dilumuri dengan tanah.

Sedangkan ‘ash berarti daun-daun pepohonan yang kering. Disifatinya ia dengan ma’kul, dimakan, yakni rusak karena dimakan dan dirobek-robek oleh ulat atau serangga, atau ketika dimakan oleh binatang buas lantas dikunyah-kunyah dan dilumatkannya.

Terdapat berbagai macam riwayat tentang kisah ini, baik dalam hal penetapan keberadaan burung-burung, bentuk dan ukuran fisiknya, besar-kecil dan jenis batuannya, serta petaka yg menimpa Abrahah. Banyak pendapat yang berbeda-beda, bahkan ada yang mencoba untuk merasionalisasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa kisah ini merupakan cerita tentang berjangkitnya penyakit cacar dan campak yang dialami oleh Abrahah dan pasukannya yang saat zaman itu belum ditemukan obatnya.

Terlepas perbedaan kisah di dalam penafsiran surah ini, terdapat beberapa pelajaran dan peringatan yang bisa diambil, antara lain :

Pertama, Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Walaupun dalam ukuran manusia, Tentara Abrahah dan gajahnya sudah tidak ada yg sanggup menghalanginya, tetapi semua kembali kepada ketetapan Allah sehingga Allah sanggup untuk memutar balik perhitungan kemenangan yang akan didapatkan oleh tentara abrahah menjadi hitungan kekalahan, kesia-siaan, bahkan kehancuran bagi mereka.

Dan Allah tidak menyerahkan pemeliharaan rumah sucinya, Baitul Haram kepada kaum musyrikin dan masyarakat Quraisy.

Kedua, Allah tidak menghendaki kaum Ahli Kitab, Abrahah dan tentaranya untuk menghancurkan Baitul Haram atau menguasai tanah suci. Sehingga Allah mengirimkan tentara-Nya, burung abaabil untuk menghancurkan tentara Abrahah dan pasukan gajahnya, hingga mereka gagal untuk menghancurkan ka’bah.

Ketiga, bangsa Arab tidak memiliki peranan apa-apa di muka bumi dan tidak ada eksistensinya sebelum kedatangan Islam. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diambil pemuka Quraisy dan penduduknya untuk menyingkir keluar kota mekkah dan berlindung di gunung saat kedatangan tentara Abrahah.

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2008 in Akidah, Islam Wayz

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: